Globalcn.us



Globalcn.us adalah mesin pencarian video. Kami telah mengindeks jutaan video dari seluruh dunia



Please Subscribe
Nama:TERBARU !! Cak Nun Membongkar FAKTA yg Tersembunyi Mengenai PRABOWO
Durasi:33 mnt 56 dtk
Dilihat:1,242,217
Dipublikasikan:14 Agustus 2018
Sumber:Youtube
Description::MENGEJUTKAN !! Cak Nun Membongkar FAKTA yg Tersembunyi Mengenai PRABOWO & JOKOWI.
Lihat saja pembangunan SPBU di Kabupaten Puncak, Papua. Premium yang semula berharga Rp 50.000 per liter sekarang turun jadi 6.500 per liter. Kelihatannya memang sepele, tapi dampaknya sangat terasa. Hal-hal kecil seperti itu kalau tidak diurusi bisa jadi pemicu kecemburuan sosial antara rakyat Papua dengan propinsi lain yang sudah lama tersentuh pembangunan.

Juga pembangunan jalur kereta api pertama kali di Kalimantan, Sulawesi dan Papua Barat. Daya angkut KA jauh lebih bagus dibanding Bus. Diharapkan dengan adanya KA, laju pertumbuhan ekonomi akan lebih terdongkrak. Setidaknya orang luar Jawa nggak nggumun melihat KA. Ingat cerita Kasino Warkop DKI tentang temannya orang Ambon yang takjub lihat KA, “Aih ada besi merayap! Merayap sudah begini kencang, bagaimana kalau berdiri???”

Banyak pencapaian Jokowi yang memang dibutuhkan oleh rakyat, anda bisa tanyakan mbah Google, karena jujur saja saya malas menyertakan referensi. Tapi Jokowi bukanlah Nabi, tidak semua kebijakannya cocok, diterima dan disetujui oleh rakyat. Apa soal reklamasi Teluk Benoa, soal kenaikan tarif TDL, atau soal apa pun.

Fanatik boleh, buta jangan. Jika sudah mendukung Jokowi, maka menganggap Jokowi 100% benar, sedangkan Prabowo 100% salah. Begitu juga jika mendukung Prabowo. Tidak ada manusia yang lebih unggul, kekurangan manusia yang satu adalah kelebihan manusia yang lain, begitu sebaliknya. Fanatik buta membuat orang jadi “kerdil”. Karena menutup diri pada ilmu atau kebaikan hanya karena ilmu dan kebaikan itu dibawa oleh orang yang dibenci, atau bukan dari kelompoknya.

Pemerintah harus selalu membuka pintu kritik lebar-lebar. Mengkritik itu halal bahkan wajib jika memang diperlukan. Yang dilarang itu fitnah, menghasut, provokasi dan hatespeech. Tapi yang sering terjadi, ketika seseorang mengkritik orang lain langsung dianggap hater oleh pendukung orang yang dikritik.

Terhadap negara, rakyat diharapkan perduli pada persoalan (polemik) yang ada. Jangan terlalu cuek pada negara. Pasif itu mendorong orang jadi apatisme. Sifat apatis menjadikan orang tidak punya jiwa patriot, militansi, perjuangan untuk mengubah keburukan menjadi kebaikan.

Selama kritikan itu membangun, silakan saja. Seorang presiden dilarang alergi kritik. Bahkan kritikan sepahit apapun tetap harus diterima, presiden harus berjiwa besar. Tingkat intelektual rakyat tidak bisa distandarisasi. Ada yang mengkritik pakai data, tapi banyak juga yang asal kritik. Apalagi kritik tidak diharuskan pakai solusi.

Jadi, siapa pun yang mengkritik presiden, pendukungnya harus legowo. Saya percaya presiden Jokowi pasti legowo. Kritik adalah bentuk keperdulian pada negara, mereka mengkritik karena cintanya yang sangat pada NKRI. Siapa pun yang mengkritik harus kita sikapi dan prasangkabaiki dengan luas hati.

Begitu juga dengan Cak Nun, seorang tokoh budaya yang sering mengkritik Jokowi. Cak Nun melakukan itu karena sangat mencintai negerinya. Orang sekaliber Cak Nun sangat layak mengkritik pemerintah. Cak Nun adalah sesepuh, tidak hanya di antara jamaahnya, tapi bagi bangsa ini. Para pejabat penting, petinggi partai, petinggi Ormas, dan orang penting lainnya pernah sowan ke Cak Nun, minta nasehat dan petunjuk dari beliau.

Cak Nun bukan bagian dari pemerintahan, bukan dari Parpol apa pun, bukan dari Ormas apa pun dan juga bukan bagian dari sekte atau madzhab apa pun. Jadi bisa melihat masalah dengan lebih jernih, karena berada di luar lingkaran.

Sedikit tentang Cak Nun :

Di masa mudanya Cak Nun adalah aktivis pembela rakyat (sampai sekarang). Beliaulah yang memperjuangkan jilbab di perusahaan-perusahaan yang melarang pekerjanya berjilbab saat bekerja. Di zaman itu perempuan berjilbab bisa dihitung dengan jari, tapi Cak Nun dengan pede-nya mementaskan drama kolosal “Lautan Jilbab”. Dan perempuan berjilbab sekarang sama sekali tidak tahu siapa yang telah memperjuangkan mereka.
Suka ini ?: